Saturday, April 23, 2016

Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar

Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : MALAM JAHANAM DI MATARAM

NENEK sakti Sinto Gendeng, guru Pendekar 212 Wiro Sableng terkencing-kencing serabutan begitu melayang jatuh memasuki alam delapan ratus tahun silam Bhumi Mataram di kawasan selatan kaki Gunung Merapi. Tubuh kurus kering si nenek terguling-guling di tanah lalu tertumbuk dan tersandar di sebatang pohon mahoni. Dua kaki masih mengepit kuda lumping yang tadi ditunggangi sewaktu melesat dari dalam hutan di dekat Candi Prambanan.

"Oala! Bagaimana bisa kejadian begini rupa?!" Si nenek berucap setengah berseru lalu semburkan air kunyahan susur yang ada di dalam mulut. Dia memandang berkeliling. "Aku di mana? Apa aku sudah berada di Mataram Kuna, kerajaan delapan ratus tahun silam?"

Perlahan-lahan si nenek bangkit berdiri. Kuda lumping dikepit di ketiak kiri, tangan kanan rapikan empat tusuk konde perak yang menancap di kepalanya.

Bukannya ingin mencari tahu di mana keberadaan Wiro dan anak perempuan bernama Ni Gatri, si nenek
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Friday, April 15, 2016

Deret Tinta Untuk Negeri

Deret Tinta Untuk Negeri Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Apakah aku bisa banggakan orangtuaku, banggakan negeriku, banggakan bangsaku, banggakan tanah airku, apapun keadaanku?
Aku ingin menjadi anak yang hidup normal seperti sebayaku. Menapaki setiap detik waktu belajarku di sekolah, bergaul dengan teman seusia, banggakan orangtua, berprestasi di usia muda, bahkan saatnya aku mati kapanpun itu aku juga ingin dikenang. Bukan karena kebodohanku, tapi karena prestasiku. Salahkah aku berkeinginan mewujudkan hal itu?
Tapi mengapa aku dilahirkan dengan keterbatasan? Bagaimana aku bisa mewujudkan keinginanku jika keadaanku seperti ini ya Allah?

Namaku Salsabila Adriyani Fatiha, atau yang kerap disapa Bella. Aku bukan lah anak dari seorang direktur bank ternama di kota, bukan pula seorang anak dari pengusaha garment kaya. Ayahku yang hanya seorang guru bantu di salah satu sekolah dasar dekat rumah, bukanlah suatu pekerjaan yang bisa membantu ekonomi keluarga. Sedangkan ibuku hanya seorang buruh cuci. Usiaku genap 14 tahun saat 2 bulan yang lalu. Kehidupanku sehari hari hanyalah membantu ibu menyelesaikan pekerjaan di rumah, juga menempuh pendidikan di salah satu sekolah menengah pertama luar biasa di kotaku.

SMPLB? Ayah menyekolahkanku di sana karena aku mempunyai keterbatasan, tahukah kamu apa keterbatasanku? Aku salah satu anak indonesia penderita disleksia,
... baca selengkapnya di Deret Tinta Untuk Negeri Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor Satu

Saturday, April 23, 2011

Dwelling Area

Apart of that, about 4 km's before we reach the ICQS Complexs, we can see that a dwelling area for the staffs of the various agencies those attached to the complexs. Those come from abroad normaly stay here as a weekend bachelor. The only problem to bring the family together is basicaly based on the basic needs like dificuilties of schoolings,retailers,markets and so on. The government is looking forward to modernize the nearby areas and m




ay be in a few years time, the senarios will be changed.

Thursday, December 30, 2010

ICQS Kota Putra New Gateway







REFERING to the Malaysian map most especially to Kedah map, we can see that Kampung Durian Burung is a small hillies rural area and yet still one of the under modern construction area stated far to the north of Kedah which is borderline to the Kingdom of Thailand.

The developement of the KOTA PUTRA Imigration Custom Quarantine and Security project in DURIAN BURUNG has started somewhere in 2003 under the Home Affairs project. It is about 80 km from the city of Alor Setar and 30km ahead from the nearest town named Kuala Nerang which where we got to pass by the Gula Padang Terap (GPT) factory and a small "kampung" of Padang Sanai to reach to the ICQS Kota Putra borderline where we meet a small village of Ban Prakorb, about 30 km to "amphur" Natawi, which further up to Hatyai,Songkla, Narathiwat,Yala and Patani in the southern part of Thailand. The only way to get there ( ICQS Kota Putra ) is by road transport, either from the city of Alor Setar or on the east side is another new underconstruction highway project about 115 km from Kupang, Baling which lead us from Kelantan or Penang (this project is still under developement when this article is written and probably might be opened to publics at the end of 2011 or early 2012).

The Kota Putra ICQS Complex has just been opened to handle the flow of the publics in Januari 2010. The departure and arrival of the visitors for both countries and other countries are strictly rules by means of documents either International Passport or Border Pass ( only for both borderline residence). The operation time is from 8.00 am to 6.00 pm.